Jumat, 29 September 2017

KOMUNIKASI EFEKTIF ORANGTUA-REMAJA DALAM MEMILIH JURUSAN DI PERGURUAN TINGGI

Oleh FITRI ARIYANTI ABIDIN, M.PSI, PSIKOLOG


I.        PENDAHULUAN

     Salah satu kondisi yang dihadapi remaja adalah memilih jurusan di Perguruan Tinggi setelah menyelesaikan jenjang Pendidikan SMA. Berbeda dengan pemilihan sekolah di jenjang sebelumnya, pemilihan jurusan di Perguruan Tinggi merupakan momen yang krusial, yang akan menentukan profesi yang akan dijalani remaja nantinya. Oleh karena itu, pemilihan jurusan harusnya melalui proses pemikiran dan pertimbangan yang matang, yang melibatkan banyak sudut pandang. Berdasarkan pengalaman membantu kasus-kasus penjurusan, terdapat 3 kondisi terkait dengan pemilihan jurusan ini :

1. Remaja sudah tahu bidang apa yang ia sukai dan mudah baginya, sehingga ia sudah mantap menentukan jurusan yang akan dipilihnya.
2. Remaja sudah memiliki beberapa pilihan, namun bingung menentukan mana yang paling cocok untuknya.
3. Remaja masih “blank”, tidak tahu apa yang ia sukai, apa yang mudah baginya, dan jurusan apa saja yang ada.
        
      Menentukan jurusan adalah suatu proses. Dalam proses itu, remaja perlu diberikan pendampingan untuk membuat keputusan yang “cukup besar” dalam kehidupannya ini. Dalam hal ini, orangtua sebagai orang yang bertanggungjawab pada anak diharapkan menjadi pendamping utama bagi anak untuk membuat keputusan bersama. Dalam kaitannya dengan hal ini, terhadap 3 kondisi :
1. Orangtua menyerahkan sepenuhnya pilihan pada anak, akan mendukung pilihan anak.
2. Orangtua menentukan jurusan yang ia pikir terbaik untuk anak, dan anak harus mengikuti keputusan orangtua karena “anak tidak tahu apa yang terbaik buat dirinya”
3. Orangtua bersama-sama dengan anak menentukan keputusan.
        
     Idealnya, keputusan memang dibuat dan disepakati bersama antara anak dan orangtua. Bagaimanapun, yang akan menjalani kehidupannya adalah anak sendiri dan dukungan dari orangtua sangat dibutuhkan. Tulisan ini akan membahas bagaimana orangtua dan anak bisa berkomunikasi secara efektif untuk mengeksplorasi bersaam alternatif-alternatif pilihan jurusan yang paling sesuai untuk anak.


II.     MENGENAL REMAJA DAN HUBUNGAN REMAJA DENGAN ORANGTUA

Seorang remaja adalah seorang yang sedang berada pada masa peralihan antara anak dan dewasa. Sebagian ciri anak masih tampak padanya, sebagian ciri dewasa mulai tampak. Meskipun perannya dalam hubungan dnegan orangtua adalah sebagai “anak”, namun pola interaksi orangtua dengan remaja tidak boleh bersifat satu arah (menasehati, memberi tahu). Hal ini dikarenakan kemampuan berpikir remaja sudah berkembang menjadi lebih aktif. Wawasan anak pun menjadi luas, bisa jadi lebih luas dibanding orangtua, dengan bantuan kemudahan menjelajah di dunia maya.
Di usia remaja, anak sudah memiliki keinginan, harapan dan nilai-nilai sendiri. Namun keinginan, harapan dan nilai-nilai ini biasanya sifatnya idealis. Di satu sisi,  orangtua biasanya sudah memiliki pengalaman nyata dalam kehidupan, yang membuatnya berpikir lebih realistis. Perbedaan ini harus disadari dan diakui, sehingga bisa dikelola tidak menjadi hambatan dalam berkomunikasi dengan remaja. Di usia remaja, sedang menonjol kebutuhannya untuk memiliki kebebasan. Hal ini memang sesuai dengan kondisinya yang akan masuk ke masa usia dewasa awal, dimana ia perlu memiliki kemampuan untuk tidak menggantungkan diri pada lingkungan, termasuk dalam membuat keputusan.


III.   PRINSIP BERKOMUNIKASI EFEKTIF DENGAN REMAJA

Sebenarnya remaja masih membutuhkan orangtuanya. Mereka masih membutuhkan masukan, arahan, pandangan orangtuanya. Apalagi untk hal-hal “besar” seperti memilih jurusan di Perguruan Tinggi. Remaja di usia ini muai mempertimbangkan juga harapan-harapan lingkungan; seperti harapan orangtua padanya, posisinya dalam keluarga, latar belakang ekonomi keluarga dll.

Idealnya, jurusan perguruan tinggi yang dipilih merupakan irisan dari :
·         Apa yang disukai anak
·         Apa yang mudah bagi anak
·         Apa yang dibutuhkan oleh “dunia”
·         Apa yang mendapatkan “bayaran”
Yang perlu diperhatikan untuk 2 poin pertama adalah, bukan hanya yang sifatnya akademis, tapi juga non akademis. Misal: yang disukai oleh anak adalah berhubungan dengan orang lain. Yang mudah bagi anak adalah menyelesaikan persoalan yang tidak melibatkan perasaan.

Untuk mendapatkan jurusan yang paling sesuai, perlu proses diskusi terus menerus antara orangtua dengan anak, bahkan jika perlu melibatkan pihak luar sebagai narasumber (misalnya psikolog, konselor di bimbingan belajar).


Tips praktis komunikasi efektif orangtua-remaja:

- Bagi orangtua:

1.   Lakukan dalam Suasana Rileks
    Suasana dalam berkomunikasi sangat ditentukan oleh suasana emosi masing-masing pihak. Jika salah satu pihak sedang dalam kondisi emosi negatif (marah, kesal, sedih), maka pembicaraan pun akan diwarnai emosi-emosi tersebut. Cari moment “santai”; oleh karena itu meluangkan waktu untuk “mengobrol” dengan remaja menjadi penting. Misalnya: ibu dengan remaja putri saat memasak bersama atau saat ke salon berdua. Ayah dengan remaja putra, misalnya dalam perjalanan berolahraga bersama. Keluarga, ketika sedang jalan-jalan santai.

2.     Mendengarkan Aktif
     Karena remaja sudah memiliki kemampuan berpikir dan wawasan yang luas, maka orangtua perlu mendudukkan anak secara “setara”. Saat anak menyatakan pendapatnya, dengarkan. Jangan menyela. Perhatikan juga bahasa tubuh anak. Bisa jadi anak mengatakan “ya” namun bahasa tubuhnya mengatakan “tidak”. Mendengarkan aktif bukan hanya “menunggu giliran untuk bicara”, tapi benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan anak. Mendengarkan akan membuat kita memahami pikiran dan perasaan anak, apa yang ia butuhkan, apa yang harsu diluruskan, dll. Membayangkan diri kita saat berada di usia anak akan membuat kita lebih mudah untuk memahami anak.

3.     Tidak Menghakimi
       Sangat mungkin anak memiliki sudut pandang yang berbeda yang dinilai “salah” oleh orangtua. Misalnya, anak memilih jurusan yang menurut ia mudah. Atau anak memilih jurusan yang banyak dipilih oleh teman-temannya. Gali terus alasan anak memilih hal tersebut, sehingga tertangkap apa yang sebenarnya jadi kebutuhan anak. Hindari menilai anak “buruk”, melainkan pahami hal itu dikarenakan anak hanya melihat dari sudut pandangnya, sehingga anak perlu dikenalkan dengan sudut pandang lain yang lebih komprehensif. Bila anak keukeuh dengan pendapatnya, minta ia mencari data yang bisa menjadi argument yang kuat bagi pilihannya.

4.    Mendampingi Menemukan Solusi  
       Remaja adalah pembelajar yang cepat, namun untuk menganalisa persoalan, ia butuh arahan. Saat anak merasa bingung atau terdapat perbedaan endapat yang tidak menemukan titik temu, pikirkan bersama bagaimana solusinya. Jangan minta anak untuk mencari solusinya sendirian. Sehingga solusi diperoleh dari proses diskusi, bukan menasihati. Misalnya bersama-sama browsing alternatif-alternatif jurusan, bersama-sama ngobrol dengan orang yang telah menjalani profesi yang dipilih orangtua atau anak.

5.      Rendah Hati Mengakui Bahwa Anak Bukan Diri Kita
      Apabila anak telah memiliki pilihan yang mantap dan disertasi alasan yang masuk akal, meskipun tidak sesuai dengan keinginan orangtua, maka orangtua harus berbesar hati memberikan dukungan. Hal ini dikarenakan yang akan menjalaninya adalah anak, bukan kita. Dan anak bukan diri kita. Bisa jadi ia memiliki potensi-potensi yang tidak kita miliki.


-  Bagi anak:

1.     Lakukan dalam Suasana rileks
      Jika ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan pada orangtua, maka cari situasi dimana orangtua dan diri kamu sendiri sedang dalam suasana rileks. Jika orangtua tidak memperhatikan seperti harapan kamu (misal mendengarkan sambil melihat layer smartphone), katakan jika kamu ingin bicara dengan serius.

2.     Mendengarkan Aktif Dan Membuka Pikiran
       Meskipun pengetahuan kamu mungkin lebih banyak daripada orangtuamu, dan kamu berpendapat bahwa kamu lebih tau diri kamu dibanding dengan orangtuamu, namun kamu harus ingat bahwa orangtuamu peduli pada apa yang terbaik buatmu (meskipun cara mengekspresikannya bisa jadi berbeda). Selain itu, orangtuamu sudah “menjalani dunia nyata”, sehingga mereka sudah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dibanding kamu. Dengarkan dan buka pikiranmu, agar kamu bisa menerima sudut pandang orangtua.

3.   Tidak Langsung Menutup Diri Dan Merasa Bahwa Orangtua Tidak Memahami Diri Kita
     Bahwa orangtua punya harapan padamu, itu adalah hal yang wajar. Orangtua juga cenderung akan menasehati berdasarkan pengalamannya. Misalnya: orangtua melihat bahwa lulusan jurusan x pasti sukses. Tapi kamu punya pilihan berbeda. Menurut pengamatanmu, kesuksesan yang ingin kamu raih adalah kesuksesan seperti yang kamu lihat dari orang-orang lulusan jurusan “y”. Ungkapkan itu pada orangtuamu. Sehingga bersama-sama bisa melihat faktanya.

4.    Minta untuk Didampingi Menemukan Solusi
       Jangan ragu untuk minta ditunjukkan solusinya. Misal ada jurusan yang menurut kamu akan sulit kamu jalani dan kamu tidak yakin apakah bisa menjalaninya. Tanya pada orangtuamu, bagaimana alternatif cara untuk menjalaninya. Jika orangtuamu memberikan nasehat yang sifatnya “abstrak” misalnya : “kamu harus usaha dong!”. Jangan ragu bertanya usaha apa yang bisa disarankan oleh orangtua untuk dilakukan.

5.  Membuat Keputusan Dan Siap Dengan  Konsekuensinya Saat Masih Berbeda Pendapat
      Saat kamu sudah punya pilihan mantap dengan alasan yang kuat namun tetap berbeda pendapat dengan orangtua, mau tidak mau kamu harus membuat keputusan. Yang harus diingat adalah, setiap keputusan ada konsekuensinya. Konsekuensi itu yang harus kamu tanggung. Oleh karena itu, ungkapkan pada orangtua kemungkinan-kemungkinan kesanggupan kamu menanggung resikonya jika kamu mengikuti pilihan orangtua, dibandingkan jika kamu memilih jurusan yang kamu suka. Misalnya: jurusan pilihan orangtuamu akan sulit kamu kuasai, sehingga nilainya nanti tidak optimal, IPKnya jelek, mencari kerja jadi sulit. Namun jika memilih jurusan yang kamu sukai, kamu akan mencapai nilai akademik yang baik. Dengan demikian, kamu juga jadi harus bertanggung jawab dengan pilihanmu.


IV.   PRINSIP MEMOTIVASI REMAJA

Motivasi berasal dari bahasa latin, “movere” yang artinya menggerakkan. Dengan demikian, motivasi artinya sesuatu yang membuat seseorang “bergerak” menuju tujuannya. Dorongan ini bisa berasa dari dalam (motivasi internal) dan bisa juga berasal dari luar (motivasi eksternal). Pada remaja, diharapkan motivasi sifatnya lebih dominan internal. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu ada untuk memotivasi adalah:

1.     Menetapkan Tujuan
       Tujuan ini harus disepakati bersama, sehingga menjadi tujuan anak juga, bukan hanya tujuan orangtua.  Tujuan harus bersifat SMART (Spesifik, Measurable, Attainable, Result Oriented, Time Limit). Misalnya: “masuk jurusan yang bagus” (bukanlah tujuan yang SMART). Tapi “nilai tryout pertama minimal 30% “ adalah tujuan yang SMART

2.     Memahami Mengapa Anak Tidak Termotivasi
     Anak tidak termotivasi bisa karena berbagai hal. Misal: target terlalu tinggi, tidak mendapatkan penghargaan jika berhasil, merasa tidak akan sanggup mencapai tujuan, sangat dipengaruhi lingkungan, dll. Identifikasi alasan dibalik tidak tumbuhnya motivasi menjadi penting untuk mengelola diri dan lingkungan agar motivasi bisa tumbuh.

3.     Berproses 
       Semangat untuk bergerak mencapai prestasi akan tumbuh jika ada keyakinan bahwa kita bisa menjadi lebih baik. Untuk mencapai hal ini, maka keyakinana bahwa “aku bisa” menjadi perlu. Caranya adalah, menentkan target-target keberhasilan secara realistik dan bertahap, serta memberi penghargaan saat keberhasilan itu tercapai. Dalam berproses ini, titik awalnya adalah kondisi anak. Jangan bandingkan dengan orang lain, melainkan bandingkan dengan diri sendiri sebelumnya.


V.         PENUTUP

Komunikasi yang baik antara anak dan orangtua merupakan bentuk nyata hubungan baik antara keduanya. Untuk mewujudkannya, perlu upaya dari kedua belah pihak. Tidak mudah, namun bukan  mustahil untuk bisa diwujudkan. Yang penting ada keinginan untuk mewujudkannya, ada upaya untuk mencari ilmunya, dan kesediaan untuk melatihnya.


TIPS LULUS SBMPTN 2018.

Pada kesempatan kali ini, SSC akan membagikan beberapa tips cara belajar yang efektif khususnya buat kalian yang ingin lulus SBMPTN 20...