Rabu, 01 November 2017

TIPS LULUS SBMPTN 2018.


Pada kesempatan kali ini, SSC akan membagikan beberapa tips cara belajar yang efektif khususnya buat kalian yang ingin lulus SBMPTN 2018.



Yuk, kita simak beberapa tips berikut ini :

1. Belajar yang Konsisten.
Konsistensi dalam belajar itu adalah hal yang paling utama agar kita terbiasa dengan pola belajar yang rutin dan berulang. Tidak sedikit diantara teman-teman kita yang punya ranking di atas tapi mereka tidak konsisten dengan pola belajar mereka, contohnya kadang mereka belajar materi UN kadang belajar materi SBMPTN, pada akhirnya mereka tidak lolos di SBMPTN.
Kedua materi tersebut memang berhubungan, namun bobot soalnya jauh berbeda. Hal ini bukan berarti belajar UN gak penting loh, tapi alangkah lebih baik jika kita membiasakan diri buat belajar materi yang memiliki bobot soal lebih tinggi dan yang memiliki wawasan lebih luas agar yang bobotnya lebih mudah kita sudah bisa melahapnya. Dan menurut yang sudah-sudah, nilai UN itu cenderung gak berpengaruh sama sekali. 

2. Atur Jam Belajar.
Menurut sebuah studi, ada waktu-waktu tertentu agar otak kita mudah memahami informasi yang masuk saat belajar, yaitu :

A. Belajar Dini Hari Jam 03.00 s/d Jam 05.00
    Belajar di dini hari adalah waktu yang sangat tepat. Bagaimanapun belajar jam segini terkadang membuat kita sangat ngantuk dan selalu ingin tidur. Jadi persiapkan juga dirimu saat malam harinya dengan tidur terlabih dahulu, dan alangkah baiknya diawali dengan shalat tahajud bagi para muslim.

B. Belajar Pagi Hari Jam 06.00 s/d Jam 10.00
    Waktu belajar seperti ini sangat bagus untuk otak karena saat pagi hari otak masih segar dan sama sekali belum digunakan untuk berfikir setelah terbangun dari tidur, sehingga otak sangat siap untuk digunakan karena masih cepat menerima pelajaran dan masih segar-segarnya.

C. Belajar Malam Hari Jam 18.30 s/d 21.30
    Malam hari emang waktu yang sering dipake untuk belajar atau hanya sekedar mengerjakan tugas sekolah, namun jangan sampai terlalu larut dan begadang.

waktu-waktu diatas bisa disesuaikan dengan gaya belajar yang kamu banget itu yang mana, asal jangan diforsir dan digas selama 2-3 jam full. Bikin partisi durasi belajarmu. Misal : setiap hari belajar 2 jam, dengan tiap 30 menit belajar dilanjutkan dengan istirahat 10 menit, lalu sambung lagi belajarnya, dan istirahat lagi, begitu seterusnya. 

3. Mulai dari Materi dasar.
Sebaiknya sebelum kamu belajar, kenali dulu tipikal soal yang biasa muncul itu kaya gimana, tulis bab apa aja yang belum dikuasai, dan mulai atur strategi belajarmu dimulai dari materi paling dasar hingga aplikasinya.
Jangan juga langsung belajar ngerjain soal yang susah, nanti yang ada otak cepat lelah n bikin kita mudah menyerah.

4. Buatlah Kelompok Belajar
Ajak teman-teman kamu yang sama-sama mau berjuang, mau bekerja keras, dan bisa saling sharing. Pertanda kamu menguasai materi dengan baik itu kalau bisa ngajarin ke orang lain. Percaya deh, belajar yang paling efektif itu adalah mengajar. So, build your own team ! 

5. Ikuti Try-Out (TO)
TO itu sangat penting dilakukan, baik online maupun offline. Karena dengan TO, kita bisa mengukur kemampuan kita sudah sejauh mana dan juga bisa mengatur strategi dalam bersaing, serta bisa membuat kita lebih realistis lagi. Realistis disini bukan berarti abis liat nilai TO yang gak lolos, terus kamu malah nurunin target ya, tapi justru kamu harus memperbesar usahamu. Selain itu TO juga membiasakan otak dan mentalmu agar lebih terbiasa dengan suasana SBMPTN aslinya, loh. Bisa dipastikan juga kalau teman-teman kita yang gak mau ikut TO itu biasanya sangat gugup saat SBMPTN dan akhirnya gak bisa maksimal ngerjain tesnya.

6. Atur Strategi Memilih Jurusan
Jangan pilih ketiganya yang sama ketat! Pilihan 1 itu impianmu, pilihan 2 itu strategimu, dan pilihan 3 itu cadangan yang aman, namun ketiganya harus sesuai dengan minat dan bakatmu. Sesuaikan juga Pass In Grade (PIG) dengan hasil TO.
Jangan terlalu memaksakan kehendak jika nilai TO kamu masih jauh dibawah PIG target Prodi & PTN favorit impianmu jika kamu sudah merasa effort-mu sudah mati-matian. Kalau masih keukeuh tapi usahamu ga ditambah, itu namanya sombong dan gak sadar diri..hehe ^_^
So, jangan sampai salah strategi yaa..

8. Berdo'a
Jika sudah berusaha sekerasnya dengan belajar siang malam, jangan lupa berdoa. Minta doa restu dari orang tua dan bimbingan dari Tuhan. Karena usaha yang keras tanpa diiringi dengan do'a akan menjadi sia-sia.

Pesannya adalah percayalah bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Kalau belum berhasil, artinya usahamu kurang keras. Tapi kalau sudah berusaha keras tapi belum berhasil, jangan pernah sesekali menyalahkan keadaan apalagi orang lain, tapi cobalah mulai instropeksi diri dan mulai evaluasi kesalahan apa yang sudah kamu lewatkan. Tuhan pasti punya cara tepat buat kasih kita cerita indah di waktu yang tepat.

Oke, sekian tips dari SSC kali ini. Semoga bermanfaat buat kalian para pejuang SBMPTN 2018 dan bisa tercapai lulus di Prodi & PTN favorit impianmu.
Terima kasih.
Salam Semangat dari SSC !!!

Senin, 16 Oktober 2017

TIPS MERAIH KESUKSESAN



SUKSES …

Menurut kamu, apa itu SUKSES?

Apakah parameter KESUKSESAN setiap orang itu sama?

Lalu, bagaimana cara meraih KESUKSESAN yang kita inginkan?

Sumber : kreativa.co.id

Sukses merupakan suatu hal yang telah berhasil kita capai dan kita dapatkan. Namun, meraih kesuksesan itu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan loh. Meraih kesuksesan itu butuh proses dan waktu yang bahkan tidak sebentar. 

Perlu kita persiapkan sedini mungkin agar sukses bisa tercapai. Contohnya, jika kita ingin sukses masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), hal yang perlu dipersiapkan adalah belajar dengan tekun saat SMA agar berhasil lolos tes SNMPTN/SBMPTN maupun Ujian mandiri. Eits,tapi perjuangan kita belum selesai sampai disitu, ketika nanti kuliahpun kita harus mempunyai strategi yang baik agar dapat lulus dengan nilai dan predikat yang terbaik.

Lalu, apa saja yang perlu kita siapkan agar dapat lulus seleksi dan berhasil masuk PTN serta dapat lulus kuliah dengan cepat tapi dengan mendapatkan hasil yang terbaik??

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, yaitu :

Hasil gambar untuk ikon belajar
Sumber : mindomo.com
       
1.  Cara Cepat
Cara inilah yang mungkin sering terpikirkan dan paling banyak diminati serta diinginkan oleh beberapa siswa. Dengan cara cepat bisa saja berhasil lulus seleksi masuk ke PTN, tetapi  dengan cara ini belum tentu siswa mampu mendapatkan hasil yang memuaskan dan bisa lulus dengan cepat saat kuliah.
Hasil gambar untuk ikon belajar
Sumber : wikimedia commons




         2.  Belajar Mandiri
Cara belajar mandiri ini biasanya dilakukan dengan mengerjakan dan mempelajari pembahasan kumpulan soal-soal tahun sebelumnya dengan harapan ketika ujian akan muncul kembali soal yang serupa.


Hasil gambar untuk ikon belajar
Sumber : freepik.es


      3.    Kuasai Konsep
Ini merupakan cara yang baik untuk mempersiapkan diri agar dapat lulus dan masuk PTN yang diinginkan. 
Karena dengan menguasai konsep kita benar-benar memahami tentang materi yang dipelajari sehingga memudahkan dalam menjawab soal-soal ujian. Jika dapat memahami konsep, maka ketika tipe atau jenis soal atau pertanyaan diganti tidak akan menjadi kendala dan tetap bisa menjawab dengan benar.



Hasil gambar untuk ikon belajar
Sumber : flaticon.es

4.     Konsep dan Mandiri
Cara ini adalah yang terbaik dan paling ampuh untuk mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Dengan mengkombinasikan penguasaan konsep dan melakukan belajar secara mandiri, siswa akan lebih mudah menyelesaikan soal-soal yang sulit dengan konsep dan logika yang tepat. Dengan cara belajar menggunakan metode ini pula yang akan membantu ketika masa kuliah dan kemungkinan besar akan lulus cepat serta mendapatkan hasil yang terbaik.

Untuk itu, marilah mulai dari sekarang membiasakan diri untuk belajar penguasaan konsep dan belajar secara mandiri agar dapat meraih KESUKSESAN di masa depan.

Jumat, 29 September 2017

KOMUNIKASI EFEKTIF ORANGTUA-REMAJA DALAM MEMILIH JURUSAN DI PERGURUAN TINGGI

Oleh FITRI ARIYANTI ABIDIN, M.PSI, PSIKOLOG


I.        PENDAHULUAN

     Salah satu kondisi yang dihadapi remaja adalah memilih jurusan di Perguruan Tinggi setelah menyelesaikan jenjang Pendidikan SMA. Berbeda dengan pemilihan sekolah di jenjang sebelumnya, pemilihan jurusan di Perguruan Tinggi merupakan momen yang krusial, yang akan menentukan profesi yang akan dijalani remaja nantinya. Oleh karena itu, pemilihan jurusan harusnya melalui proses pemikiran dan pertimbangan yang matang, yang melibatkan banyak sudut pandang. Berdasarkan pengalaman membantu kasus-kasus penjurusan, terdapat 3 kondisi terkait dengan pemilihan jurusan ini :

1. Remaja sudah tahu bidang apa yang ia sukai dan mudah baginya, sehingga ia sudah mantap menentukan jurusan yang akan dipilihnya.
2. Remaja sudah memiliki beberapa pilihan, namun bingung menentukan mana yang paling cocok untuknya.
3. Remaja masih “blank”, tidak tahu apa yang ia sukai, apa yang mudah baginya, dan jurusan apa saja yang ada.
        
      Menentukan jurusan adalah suatu proses. Dalam proses itu, remaja perlu diberikan pendampingan untuk membuat keputusan yang “cukup besar” dalam kehidupannya ini. Dalam hal ini, orangtua sebagai orang yang bertanggungjawab pada anak diharapkan menjadi pendamping utama bagi anak untuk membuat keputusan bersama. Dalam kaitannya dengan hal ini, terhadap 3 kondisi :
1. Orangtua menyerahkan sepenuhnya pilihan pada anak, akan mendukung pilihan anak.
2. Orangtua menentukan jurusan yang ia pikir terbaik untuk anak, dan anak harus mengikuti keputusan orangtua karena “anak tidak tahu apa yang terbaik buat dirinya”
3. Orangtua bersama-sama dengan anak menentukan keputusan.
        
     Idealnya, keputusan memang dibuat dan disepakati bersama antara anak dan orangtua. Bagaimanapun, yang akan menjalani kehidupannya adalah anak sendiri dan dukungan dari orangtua sangat dibutuhkan. Tulisan ini akan membahas bagaimana orangtua dan anak bisa berkomunikasi secara efektif untuk mengeksplorasi bersaam alternatif-alternatif pilihan jurusan yang paling sesuai untuk anak.


II.     MENGENAL REMAJA DAN HUBUNGAN REMAJA DENGAN ORANGTUA

Seorang remaja adalah seorang yang sedang berada pada masa peralihan antara anak dan dewasa. Sebagian ciri anak masih tampak padanya, sebagian ciri dewasa mulai tampak. Meskipun perannya dalam hubungan dnegan orangtua adalah sebagai “anak”, namun pola interaksi orangtua dengan remaja tidak boleh bersifat satu arah (menasehati, memberi tahu). Hal ini dikarenakan kemampuan berpikir remaja sudah berkembang menjadi lebih aktif. Wawasan anak pun menjadi luas, bisa jadi lebih luas dibanding orangtua, dengan bantuan kemudahan menjelajah di dunia maya.
Di usia remaja, anak sudah memiliki keinginan, harapan dan nilai-nilai sendiri. Namun keinginan, harapan dan nilai-nilai ini biasanya sifatnya idealis. Di satu sisi,  orangtua biasanya sudah memiliki pengalaman nyata dalam kehidupan, yang membuatnya berpikir lebih realistis. Perbedaan ini harus disadari dan diakui, sehingga bisa dikelola tidak menjadi hambatan dalam berkomunikasi dengan remaja. Di usia remaja, sedang menonjol kebutuhannya untuk memiliki kebebasan. Hal ini memang sesuai dengan kondisinya yang akan masuk ke masa usia dewasa awal, dimana ia perlu memiliki kemampuan untuk tidak menggantungkan diri pada lingkungan, termasuk dalam membuat keputusan.


III.   PRINSIP BERKOMUNIKASI EFEKTIF DENGAN REMAJA

Sebenarnya remaja masih membutuhkan orangtuanya. Mereka masih membutuhkan masukan, arahan, pandangan orangtuanya. Apalagi untk hal-hal “besar” seperti memilih jurusan di Perguruan Tinggi. Remaja di usia ini muai mempertimbangkan juga harapan-harapan lingkungan; seperti harapan orangtua padanya, posisinya dalam keluarga, latar belakang ekonomi keluarga dll.

Idealnya, jurusan perguruan tinggi yang dipilih merupakan irisan dari :
·         Apa yang disukai anak
·         Apa yang mudah bagi anak
·         Apa yang dibutuhkan oleh “dunia”
·         Apa yang mendapatkan “bayaran”
Yang perlu diperhatikan untuk 2 poin pertama adalah, bukan hanya yang sifatnya akademis, tapi juga non akademis. Misal: yang disukai oleh anak adalah berhubungan dengan orang lain. Yang mudah bagi anak adalah menyelesaikan persoalan yang tidak melibatkan perasaan.

Untuk mendapatkan jurusan yang paling sesuai, perlu proses diskusi terus menerus antara orangtua dengan anak, bahkan jika perlu melibatkan pihak luar sebagai narasumber (misalnya psikolog, konselor di bimbingan belajar).


Tips praktis komunikasi efektif orangtua-remaja:

- Bagi orangtua:

1.   Lakukan dalam Suasana Rileks
    Suasana dalam berkomunikasi sangat ditentukan oleh suasana emosi masing-masing pihak. Jika salah satu pihak sedang dalam kondisi emosi negatif (marah, kesal, sedih), maka pembicaraan pun akan diwarnai emosi-emosi tersebut. Cari moment “santai”; oleh karena itu meluangkan waktu untuk “mengobrol” dengan remaja menjadi penting. Misalnya: ibu dengan remaja putri saat memasak bersama atau saat ke salon berdua. Ayah dengan remaja putra, misalnya dalam perjalanan berolahraga bersama. Keluarga, ketika sedang jalan-jalan santai.

2.     Mendengarkan Aktif
     Karena remaja sudah memiliki kemampuan berpikir dan wawasan yang luas, maka orangtua perlu mendudukkan anak secara “setara”. Saat anak menyatakan pendapatnya, dengarkan. Jangan menyela. Perhatikan juga bahasa tubuh anak. Bisa jadi anak mengatakan “ya” namun bahasa tubuhnya mengatakan “tidak”. Mendengarkan aktif bukan hanya “menunggu giliran untuk bicara”, tapi benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan anak. Mendengarkan akan membuat kita memahami pikiran dan perasaan anak, apa yang ia butuhkan, apa yang harsu diluruskan, dll. Membayangkan diri kita saat berada di usia anak akan membuat kita lebih mudah untuk memahami anak.

3.     Tidak Menghakimi
       Sangat mungkin anak memiliki sudut pandang yang berbeda yang dinilai “salah” oleh orangtua. Misalnya, anak memilih jurusan yang menurut ia mudah. Atau anak memilih jurusan yang banyak dipilih oleh teman-temannya. Gali terus alasan anak memilih hal tersebut, sehingga tertangkap apa yang sebenarnya jadi kebutuhan anak. Hindari menilai anak “buruk”, melainkan pahami hal itu dikarenakan anak hanya melihat dari sudut pandangnya, sehingga anak perlu dikenalkan dengan sudut pandang lain yang lebih komprehensif. Bila anak keukeuh dengan pendapatnya, minta ia mencari data yang bisa menjadi argument yang kuat bagi pilihannya.

4.    Mendampingi Menemukan Solusi  
       Remaja adalah pembelajar yang cepat, namun untuk menganalisa persoalan, ia butuh arahan. Saat anak merasa bingung atau terdapat perbedaan endapat yang tidak menemukan titik temu, pikirkan bersama bagaimana solusinya. Jangan minta anak untuk mencari solusinya sendirian. Sehingga solusi diperoleh dari proses diskusi, bukan menasihati. Misalnya bersama-sama browsing alternatif-alternatif jurusan, bersama-sama ngobrol dengan orang yang telah menjalani profesi yang dipilih orangtua atau anak.

5.      Rendah Hati Mengakui Bahwa Anak Bukan Diri Kita
      Apabila anak telah memiliki pilihan yang mantap dan disertasi alasan yang masuk akal, meskipun tidak sesuai dengan keinginan orangtua, maka orangtua harus berbesar hati memberikan dukungan. Hal ini dikarenakan yang akan menjalaninya adalah anak, bukan kita. Dan anak bukan diri kita. Bisa jadi ia memiliki potensi-potensi yang tidak kita miliki.


-  Bagi anak:

1.     Lakukan dalam Suasana rileks
      Jika ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan pada orangtua, maka cari situasi dimana orangtua dan diri kamu sendiri sedang dalam suasana rileks. Jika orangtua tidak memperhatikan seperti harapan kamu (misal mendengarkan sambil melihat layer smartphone), katakan jika kamu ingin bicara dengan serius.

2.     Mendengarkan Aktif Dan Membuka Pikiran
       Meskipun pengetahuan kamu mungkin lebih banyak daripada orangtuamu, dan kamu berpendapat bahwa kamu lebih tau diri kamu dibanding dengan orangtuamu, namun kamu harus ingat bahwa orangtuamu peduli pada apa yang terbaik buatmu (meskipun cara mengekspresikannya bisa jadi berbeda). Selain itu, orangtuamu sudah “menjalani dunia nyata”, sehingga mereka sudah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dibanding kamu. Dengarkan dan buka pikiranmu, agar kamu bisa menerima sudut pandang orangtua.

3.   Tidak Langsung Menutup Diri Dan Merasa Bahwa Orangtua Tidak Memahami Diri Kita
     Bahwa orangtua punya harapan padamu, itu adalah hal yang wajar. Orangtua juga cenderung akan menasehati berdasarkan pengalamannya. Misalnya: orangtua melihat bahwa lulusan jurusan x pasti sukses. Tapi kamu punya pilihan berbeda. Menurut pengamatanmu, kesuksesan yang ingin kamu raih adalah kesuksesan seperti yang kamu lihat dari orang-orang lulusan jurusan “y”. Ungkapkan itu pada orangtuamu. Sehingga bersama-sama bisa melihat faktanya.

4.    Minta untuk Didampingi Menemukan Solusi
       Jangan ragu untuk minta ditunjukkan solusinya. Misal ada jurusan yang menurut kamu akan sulit kamu jalani dan kamu tidak yakin apakah bisa menjalaninya. Tanya pada orangtuamu, bagaimana alternatif cara untuk menjalaninya. Jika orangtuamu memberikan nasehat yang sifatnya “abstrak” misalnya : “kamu harus usaha dong!”. Jangan ragu bertanya usaha apa yang bisa disarankan oleh orangtua untuk dilakukan.

5.  Membuat Keputusan Dan Siap Dengan  Konsekuensinya Saat Masih Berbeda Pendapat
      Saat kamu sudah punya pilihan mantap dengan alasan yang kuat namun tetap berbeda pendapat dengan orangtua, mau tidak mau kamu harus membuat keputusan. Yang harus diingat adalah, setiap keputusan ada konsekuensinya. Konsekuensi itu yang harus kamu tanggung. Oleh karena itu, ungkapkan pada orangtua kemungkinan-kemungkinan kesanggupan kamu menanggung resikonya jika kamu mengikuti pilihan orangtua, dibandingkan jika kamu memilih jurusan yang kamu suka. Misalnya: jurusan pilihan orangtuamu akan sulit kamu kuasai, sehingga nilainya nanti tidak optimal, IPKnya jelek, mencari kerja jadi sulit. Namun jika memilih jurusan yang kamu sukai, kamu akan mencapai nilai akademik yang baik. Dengan demikian, kamu juga jadi harus bertanggung jawab dengan pilihanmu.


IV.   PRINSIP MEMOTIVASI REMAJA

Motivasi berasal dari bahasa latin, “movere” yang artinya menggerakkan. Dengan demikian, motivasi artinya sesuatu yang membuat seseorang “bergerak” menuju tujuannya. Dorongan ini bisa berasa dari dalam (motivasi internal) dan bisa juga berasal dari luar (motivasi eksternal). Pada remaja, diharapkan motivasi sifatnya lebih dominan internal. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu ada untuk memotivasi adalah:

1.     Menetapkan Tujuan
       Tujuan ini harus disepakati bersama, sehingga menjadi tujuan anak juga, bukan hanya tujuan orangtua.  Tujuan harus bersifat SMART (Spesifik, Measurable, Attainable, Result Oriented, Time Limit). Misalnya: “masuk jurusan yang bagus” (bukanlah tujuan yang SMART). Tapi “nilai tryout pertama minimal 30% “ adalah tujuan yang SMART

2.     Memahami Mengapa Anak Tidak Termotivasi
     Anak tidak termotivasi bisa karena berbagai hal. Misal: target terlalu tinggi, tidak mendapatkan penghargaan jika berhasil, merasa tidak akan sanggup mencapai tujuan, sangat dipengaruhi lingkungan, dll. Identifikasi alasan dibalik tidak tumbuhnya motivasi menjadi penting untuk mengelola diri dan lingkungan agar motivasi bisa tumbuh.

3.     Berproses 
       Semangat untuk bergerak mencapai prestasi akan tumbuh jika ada keyakinan bahwa kita bisa menjadi lebih baik. Untuk mencapai hal ini, maka keyakinana bahwa “aku bisa” menjadi perlu. Caranya adalah, menentkan target-target keberhasilan secara realistik dan bertahap, serta memberi penghargaan saat keberhasilan itu tercapai. Dalam berproses ini, titik awalnya adalah kondisi anak. Jangan bandingkan dengan orang lain, melainkan bandingkan dengan diri sendiri sebelumnya.


V.         PENUTUP

Komunikasi yang baik antara anak dan orangtua merupakan bentuk nyata hubungan baik antara keduanya. Untuk mewujudkannya, perlu upaya dari kedua belah pihak. Tidak mudah, namun bukan  mustahil untuk bisa diwujudkan. Yang penting ada keinginan untuk mewujudkannya, ada upaya untuk mencari ilmunya, dan kesediaan untuk melatihnya.


TIPS LULUS SBMPTN 2018.

Pada kesempatan kali ini, SSC akan membagikan beberapa tips cara belajar yang efektif khususnya buat kalian yang ingin lulus SBMPTN 20...